Pendidikan Zaman Soekarno: Sistem Pengaruh Perkembangannya
Pendidikan di Indonesia pada masa Soekarno mengalami berbagai perubahan yang signifikan, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan. Soekarno sendiri merupakan tokoh yang memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, meskipun di masa kecilnya ia harus menghadapi sistem pendidikan kolonial yang membatasi akses bagi pribumi. Kebijakan pendidikan di era kepemimpinannya juga menjadi bagian penting dalam membangun identitas bangsa serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pendidikan Zaman Soekarno: Sistem Pengaruh Perkembangannya
Sejak kecil, Soekarno telah menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Pendidikan awalnya dimulai di sekolah dasar milik Belanda, yakni Europeesche Lagere School (ELS), yang kala itu hanya diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Eropa dan elite pribumi. Soekarno menempuh pendidikan di sekolah ini hingga kelas lima, sebelum akhirnya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Soekarno melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) Surabaya, salah satu sekolah menengah elit yang menyediakan pendidikan berbasis sistem Belanda. Di sini, ia semakin mengasah kemampuan intelektualnya, terutama dalam bidang politik dan ilmu sosial. Soekarno kemudian melanjutkan pendidikannya ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung atau ITB) dan meraih gelar insinyur pada tahun 1926. Pengalaman akademisnya membentuk pola pikir kritisnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Sistem Pendidikan pada Masa Kolonial
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, sistem pendidikan di Indonesia sangat diskriminatif. Pendidikan yang layak hanya bisa diakses oleh orang-orang Eropa dan sebagian kecil pribumi dari golongan bangsawan atau keluarga terpandang. Beberapa jenis sekolah yang ada pada masa itu meliputi:
Europeesche Lagere School (ELS) – Sekolah dasar untuk anak-anak Eropa dan pribumi dari kalangan elite.
Hollandsch-Inlandsche School (HIS) – Sekolah dasar untuk anak-anak pribumi yang mampu secara ekonomi.
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) – Sekolah menengah pertama bagi kaum pribumi yang berprestasi.
Algemene Middelbare School (AMS) – Sekolah menengah atas yang hanya bisa diakses oleh kelompok tertentu.
Technische Hoogeschool te Bandoeng – Salah satu perguruan tinggi teknik yang menjadi tempat Soekarno menempuh pendidikan tinggi.
Sistem ini menghambat akses pendidikan bagi mayoritas masyarakat pribumi, menyebabkan ketimpangan sosial yang cukup tajam di era kolonial.
Pendidikan di Masa Kepemimpinan Soekarno
Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Presiden Soekarno berupaya mengubah sistem pendidikan yang sebelumnya bersifat diskriminatif menjadi lebih inklusif dan berorientasi pada pembangunan nasional. Beberapa kebijakan penting dalam pendidikan yang diterapkan di masa kepemimpinannya antara lain:
Wajib Belajar bagi Seluruh Anak Indonesia
Pemerintah mulai memperkenalkan kebijakan wajib belajar guna meningkatkan angka partisipasi sekolah.
Pendidikan dasar menjadi lebih terbuka bagi semua lapisan masyarakat.
Pembentukan Identitas Nasional melalui Pendidikan
Kurikulum pendidikan diubah untuk lebih menekankan sejarah perjuangan bangsa dan nasionalisme.
Pendidikan moral dan kebangsaan menjadi bagian penting dalam kurikulum sekolah.
Pendirian Universitas dan Lembaga Pendidikan Tinggi
Pada masa Soekarno, didirikan berbagai universitas negeri seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Airlangga.
Lembaga-lembaga ini bertujuan untuk mencetak generasi intelektual yang akan membangun Indonesia pasca-kemerdekaan.
Kebijakan Pengiriman Mahasiswa ke Luar Negeri
Pemerintah mulai mengirimkan mahasiswa Indonesia ke berbagai negara untuk memperdalam ilmu dalam berbagai bidang.
Beasiswa diberikan kepada siswa berprestasi guna meningkatkan kualitas tenaga ahli Indonesia.
Penguatan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pendidikan
Bahasa Indonesia mulai digunakan sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.
Hal ini bertujuan untuk menyatukan keberagaman budaya dan bahasa di Indonesia.
Tantangan Pendidikan di Masa Soekarno
Meskipun berbagai kebijakan pendidikan diterapkan di era kepemimpinan Soekarno, terdapat beberapa tantangan yang menghambat perkembangan pendidikan nasional, di antaranya:
Keterbatasan Infrastruktur Pendidikan – Banyak daerah yang belum memiliki fasilitas pendidikan yang memadai.
Kendala Ekonomi – Krisis ekonomi yang terjadi membuat anggaran pendidikan belum bisa dialokasikan secara optimal.
Kesenjangan Pendidikan antara Kota dan Desa – Akses pendidikan di daerah terpencil masih terbatas dibandingkan dengan di kota-kota besar.
Politik dan Ideologi – Beberapa kebijakan pendidikan saat itu mendapat kritik karena dianggap terlalu berorientasi pada ideologi tertentu.
Dampak Pendidikan di Era Soekarno terhadap Indonesia
Terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi, kebijakan pendidikan di era Soekarno memberikan dampak positif terhadap perkembangan bangsa. Beberapa pengaruhnya meliputi:
Meningkatnya Kesadaran Nasionalisme – Pendidikan dijadikan sebagai alat untuk membangun semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Munculnya Intelektual dan Pemikir Bangsa – Banyak lulusan perguruan tinggi yang kemudian menjadi pemimpin di berbagai bidang.
Perkembangan Pendidikan Tinggi – Universitas dan lembaga pendidikan yang didirikan di era Soekarno masih eksis hingga kini dan menjadi pusat pendidikan unggulan di Indonesia.
Kesimpulan
Pendidikan di era Soekarno mengalami berbagai perubahan signifikan, baik dalam hal akses, kurikulum, maupun kebijakan yang diterapkan. Dari pengalaman pribadinya yang sempat merasakan sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif, Soekarno berusaha menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berorientasi pada pembangunan nasional. Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, kebijakan pendidikan di masa kepemimpinannya telah menjadi fondasi bagi perkembangan dunia pendidikan di Indonesia saat ini.